Tampilkan postingan dengan label Jataka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jataka. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2013

BĀHIYA JĀTAKA

BĀHIYA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center
“Belajarlah engkau dengan tepat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika Beliau menetap di Kūṭāgārasālā 192 di Weluwana (Veḷuvana) dekat Vesāli, mengenai seorang Licchavi, seorang pangeran alim yang memeluk keyakinan ini. Ia mengundang Sanggha dengan Sang Buddha sebagai guru mereka ke rumahnya, dan di sana ia memberikan persembahan yang berlimpah pada mereka. Dan istrinya merupakan seorang wanita yang sangat gemuk dengan rupa yang membengkak, serta selera berpakaian yang jelek.
Berterima kasih atas persembahannya, Sang Guru kembali ke wihara dan setelah memberikan khotbah kepada para bhikkhu, Beliau masuk ke dalam kamarnya yang wangi.

CULLA-PADUMA-JĀTAKA

No. 19396

CULLA-PADUMA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center
“Ini tidak lain,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal (tidak puas).
Cerita pembuka ini akan dikemukakan di dalam Ummadantī-Jātaka97. Ketika bhikkhu ini ditanya oleh Sang Guru apakah benar bahwasanya dia itu seorang yang tidak puas, dia menjawab bahwa itu benar.
“Siapakah,” kata Sang Guru, “yang menyebabkan Anda tidak puas?” Dia menjawab bahwa dia telah melihat seorang wanita yang berpakaian bagus dan karena ditaklukkan oleh nafsulah menyebabkan dirinya tidak puas.
Kemudian Sang Guru berkata, “Bhikkhu, kaum wanita semuanya tidak berterima kasih dan tidak setia; orang-orang di masa lampau bahkan sangat bodoh sampai memberikan darah dari lutut kanan kepada mereka untuk diminum dan membuat mereka menyerahkan sepanjang hidup mereka, tetapi masih tidak berhasil mendapatkan hati mereka (wanita).”

CULLA-SUTASOMA-JĀTAKA

No. 525

CULLA-SUTASOMA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Dengarkanlah saya, teman-teman,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam pelepasan (keduniawian).
Cerita pembukanya berhubungan dengan Mahānāradakassapa-Jātaka97.
____________________
Dahulu kala, kota yang sekarang menjadi Benares bernama Sudassana dan di sana hiduplah Raja Brahmadatta. Ratu utamanya melahirkan Bodhisatta. Wajahnya cerah sempurna seperti bulan purnama, dan oleh karenanya ia diberi nama Soma.
Ketika ia beranjak remaja, dikarenakan kegemarannya akan jus buah soma98 dan kebiasaannya mengambil sarinya, orang-orang mengenalnya sebagai Sutasoma (penyuling buah soma). Ketika dewasa, ia diajarkan semua cabang ilmu pengetahuan di Takkasilā, dan sekembalinya dari sana, payung putih diberikan kepadanya oleh ayahnya, dan ia pun memerintah kerajaan dengan benar, memiliki daerah kekuasaan yang sangat luas, memiliki enam belas ribu istri, dengan Candadevī sebagai ratu utamanya.

MAHĀBODHI JĀTAKA

No. 528

MAHĀ-BODHI-JĀTAKA117

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Apa arti dari benda-benda ini,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam kebijaksanaan.
Kisahnya berhubungan di dalam Mahāummagga-Jātaka.
Sekarang dalam kisah ini, Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, tetapi juga di masa lampau, Tathāgata adalah yang bijaksana dan mengalahkan para penganut pandangan salah (pembantah),” dan dengan kata-kata ini, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________
Dahulu kala, pada masa pemerintahan Brahmadatta, Bodhisatta terlahir di Benares dalam Kerajaan Kasi, di keluarga seorang brahmana yang kaya raya, yang memiliki kekayaan sebesar delapan ratus juta, dan mereka memberinya nama Bodhi.