Tampilkan postingan dengan label Sutta Pitaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sutta Pitaka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2019

Apa yang Terjadi Setelah Kematian?

Banyak yang mempertanyakan tentang Apa Yang Terjadi Setelah Kematian?

Ada tiga macam jawaban untuk pertanyaan itu, yaitu:

1. Mereka yang percaya pada adanya  “Tuhan penguasa semesta”  akan menjawab, bahwa setelah mati seseorang akan ditempatkan di Surga abadi atau Neraka abadi, tergantung pada perbuatan atau agama orang itu.

2. Yang lain mengatakan bahwa bila hidup seseorang berakhir, keberadaannya juga berakhir. Ini adalah kepercayaan “Kemusnahan pada kematian“, yang merupakan pandangan materialistik.

3. Sang Buddha berkata bahwa setelah kematian, kita akan terlahir pada

Selasa, 09 Juli 2013

Maha Samaya-sutta

MAHA SAMAYA SUTTA

Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya V
Oleh : Lembaga Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : C.V. Danau Batur Jakarta, 1992
Demikian telah saya dengar,
  1. Pada suatu ketika Sang Bhagava bersama sekelompok besar bhikkhu sangha yang berjumlah lima ratus bhikkhu yang semuanya arahat 1) berada di Mahavana di daerah suku Sakya di Kavilavatthu. Dan para dewa dari sepuluh ribu tata-surya 2) datang ke sana mengunjungi Sang Bhagava dan bhikkhu Sangha.
  2. Ketika itu ada empat dewa alam Suddhavasa 3) berpikir: “Sekarang, Sang Bhagava dengan sekelompok besar bhikkhu sangha yang berjumlah lima ratus bhikkhu yang semuanya arahat berada di Mahavana, di daerah suku Sakya di Kapilavatthu. Dan para dewa dari sepuluh ribu tata-surya datang ke sana untuk mengunjungi Sang Bhagava dan bhikkhu Sangha. Bukankah sebaiknya kita juga mengunjungi beliau, dan masing-masing kita mengucapkan sebuah syair di depan-Nya?”
  3. Maka para dewa itu, bagaikan seorang yang gagah perkasa merentangkan tangannya atau perapatkan tangannya yang telah direntangkan, lenyap dari alam Suddhavasa dan muncul di depan Sang Bhagava. Mereka menghormat Beliau dan berdiri di samping. Dan dengan berdiri demikian, salah seorang dewa dari para dewa itu mengucapkan syair ini kepada Sang Bhagava: “Pertemuan besar di hutan! Para dewapun datang berkumpul, Kamipun datang untuk menyaksikan pertemuan agung dari Bhikkhu Sangha yang tidak terkalahkan.” 4)

Mulapariyaya-sutta

MULAPARIYAYA SUTTA

Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya I,
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit Hanuman Sakti, Jakarta, 1996
Demikianlah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di bawah pohon Sala-raja, di hutan Subhaga, Ukkhattha. Di tempat itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu.”
“Bhante,” jawab para bhikkhu.
Sang Bhagava berkata: “Para bhikkhu, saya akan mengajarkan dasar metode (mulapariyaya) semua dhamma, dengarkan, perhatikan dengan seksama, saya akan bicara.”
“Ya, bhante,” jawab para bhikkhu menyetujuinya.
Sang Bhagava berkata: “Para bhikkhu, dalam hal orang awam (puthujjana) yang tidak memperdulikan (assutava) para ariya, tidak melihat (adassavi) ariyadhamma, tidak mengetahui (akovido) ariyadhamma, tidak terlatih dalam ariyadhamma, tidak melihat orang-orang suci (sapurisa), tidak mengetahui dhamma orang-orang suci, tidak terlatih dalam dhamma orang-orang suci, namun mengetahui (sanjanati) ‘pathavi’ (padat) sebagai pathavi. Setelah mengetahui pathavi sebagai pathavi, ia berpikir tentang pathavi; ia memikirkan (dirinya) berhubungan dengan pathavi; ia memikirkan (dirinya) sebagai pathavi; ia berpikir bahwa ‘pathavi milikku’, ia gembira dalam pathavi. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia tidak mengerti dengan baik.

Dhammadayada-sutta

DHAMMADAYADA SUTTA

Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya I
Oleh : Tim Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : Proyek Sarana Keagamaan Buddha Departemen Agama RI, 1993
Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu ketika Sang Bhagava berada di Jetavana, Anathapindika Arama, Savatthi. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Para Bhikkhu.”
“Ya, Bhante,” jawab para bhikkhu. Selanjutnya Sang Buddha berkata:
“Bhikkhu jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam materi. Bagaimana para siswaKu menjadi pewarisKu dalam Dhamma?
Misalnya Saya telah makan, tidak makan lagi karena telah kenyang, selesai, telah cukup, sesuai dengan apa yang diperlukan, namun ada makanan sisa yang akan dibuang. Kemudian ada dua orang bhikkhu tiba, lapar dan lemah. Saya berkata kepada mereka: ‘Bhikkhu Saya telah makan, tidak makan lagi …, ada makanan sisa yang akan dibuang; jika Anda mau makan itu; jika tidak mau Saya akan membuangnya sekarang ke tempat yang tak berumput atau ke air yang tidak ada binatang’. Kemudian seorang bhikkhu berpikir: ‘Sang Bhagava telah makan … namun ada makanan sisa dari Sang Bhagava yang akan dibuang …, tetapi Sang Bhagava pernah berkata: ‘Para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam materi,’ dalam hal ini makanan adalah salah satu materi; kiranya, lebih baik daripada makan makanan itu, saya akan menghabiskan waktu siang dan malam ini dengan lapar dan lemah’, maka bhikkhu itu tidak makan.

Kamis, 04 Juli 2013

Brahmajala Sutta

DN 1

BRAHMAJALA SUTTA

Sumber: Brahmajala Sutta , Oleh: Tim Penterjemah
Diterbitkan oleh Badan Penerbit Buddhis ARYASURYACANDRA, 1993
PENDAHULUAN
Brahmajala Sutta merupakan sutta yang pertama dari 34 sutta Digha Nikaya. Sutta ini merupakan sebuah sutta yang sangat penting untuk dipelajari dan direnungkan karena isi sutta ini menguraikan tentang berbagai pandangan atau ajaran dari bermacam-macam aliran agama yang ada serta berkembang pada masa kehidupan Sang Buddha. Khususnya bagi umat Buddha yang sedang mempelajari Buddha Dhamma, maka dengan merenungkan dan mengerti isi sutta ini, ia akan mendapatkan banyak informasi baru tentang dasar teori tentang bagaimana pola pikir dan kedudukan ajaran agama Buddha di tengah-tengah aneka ragamnya teori pandangan hidup dan agama di dunia ini. Karena uraian yang ada dalam sutta ini, walaupun telah diungkapkan oleh Sang Buddha pada lebih dari 2500 tahun yang lalu, namun isinya sampai sekarang masih up to date. Ada dua pokok besar yang diuraikan dalam Brahmajala sutta, yaitu tentang sila (peraturan prilaku-moral) dan ditthi (pandangan atau teori ajaran). Sila yang diuraikan adalah Cula sila, Majjhima sila dan Maha sila yang perlu sekali dilaksanakan oleh setiap umat Buddha yang saleh. Cula sila berkenaan dengan peraturan-peraturan yang terdapat dalam dasa sila Buddhis. Majjhima sila berkenaan dengan rincian dari pelaksanaan sila keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan dari dasa sila Buddhis maupun tentang pemeliharaan tumbuh-tumbuhan agar tetap lestari, dan cara berbicara yang pantas.

Rabu, 03 Juli 2013

120 Sankhārupapatti Sutta (Kemunculan Kembali Melalui Aspirasi)

120  Sankhārupapatti Sutta
Kemunculan Kembali Melalui Aspirasi



1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian tentang kemunculan kembali sesuai dengan aspirasi seseorang.  Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Aku katakan.” – “Baik, Yang Mulia.” Para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

119 Kāyagatāsati Sutta (Perhatian pada Jasmani)

119  Kāyagatāsati Sutta
Perhatian pada Jasmani



1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Saat itu sejumlah bhikkhu sedang duduk di dalam aula pertemuan, di mana mereka berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan, ketika diskusi ini muncul di antara mereka: “Sungguh mengagumkan, Teman-teman, sungguh menakjubkan, bagaimana hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, bahwa perhatian pada jasmani, ketika dikembangkan dan dilatih, adalah berbuah besar dan bermanfaat besar.”

Akan tetapi, diskusi mereka terhenti; karena Sang Bhagavā bangun dari meditasiNya pada malam itu, memasuki aula pertemuan, dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian Beliau bertanya kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, untuk mendiskusikan apakah kalian duduk bersama di sini saat ini? Dan diskusi apakah yang terhenti?” [89]

118 Ānāpānasati Sutta (Perhatian pada Pernafasan)

 118  Ānāpānasati SuttaPerhatian pada Pernafasan


(BAGIAN PENDAHULUAN)

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Taman Timur, di Istana ibunya Migāra, bersama dengan banyak siswa senior terkenal – Yang Mulia Sāriputta, Yang Mulia Mahā Moggallāna, Yang Mulia Mahā Kassapa, Yang Mulia Mahā Kaccāna, Yang Mulia Mahā Koṭṭhita, Yang Mulia Mahā Kappina, Yang Mulia Mahā Cunda, [79] Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Revata, Yang Mulia Ānanda, dan para siswa senior terkenal lainnya.

2. Pada saat itu para bhikkhu senior sedang mengajar dan memberikan instruksi kepada para bhikkhu baru; beberapa bhikkhu senior sedang mengajar dan memberikan instruksi kepada sepuluh bhikkhu, beberapa bhikkhu senior sedang mengajar dan memberikan instruksi kepada dua puluh bhikkhu … tiga puluh … empat puluh bhikkhu. Dan para bhikkhu baru itu, setelah diajari dan diberikan instruksi oleh para bhikkhu senior, telah mencapai tingkat-tingkat keluhuran tinggi berturut-turut.

Minggu, 09 Juni 2013

SAKKA PANHA SUTTA

SAKKA PANHA SUTTA
Mahasi Sayadaw
(Alih Inggris – Indonesia: Chandasili Nunuk Y. Kusmiana,
Editor: Samuel B. Harsojo, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Medio Juli 2003)

KATA PENGANTAR
Buku ini berisi terjemahan ceramah Mahasi Sayadaw tentang Sakka Panha Sutta. Sayadaw memberikan ceramah tentang Sakka Panha Sutta pada bulan desember 1977 dalam kunjungan tahunan para umat untuk mendengarkan pembabaran dhamma dari beliau. Permintaan ceramah diajukan oleh U Pwint Kaung. Ia adalah ketua organisasi pengembangan Buddha sasana.
Ketua organisasi itu mengharapkan Sayadaw memberikan suatu ceramah yang bersifat umum dan universal. Dengan alasan inilah Sayadaw memilih serangkaian tema ceramah yang diambil dari Sakka Panha Sutta.
Sutta ini bercerita kepada kita tentang percakapan Sang Buddha Gotama dengan raja dewa Sakka. Sakka bertanya asal muasal timbulnya konflik, rasa frustrasi dan penderitaan yang dialami semua mahluk. Sayadaw membahas panjang lebar tentang sutta ini. Dalam sutta ini terdapat kata-kata Sang Buddha tentang hal yang bisa membuat dunia damai sejahtera serta beberapa pesan penting di dalamnya.

Milinda Panha

Milinda Panha

Berisikan diskusi seru antara Raja Milinda dengan Bhikkhu Nagasena.
Pertanyaan-pertanyaan kritis Raja Milinda sering dianggap sebagai pertanyaan yang mewakili cara berpikir Barat, sedangkan jawaban Bhikkhu Nasena yang indah, tepat dan mudah dimengerti sering dianggap sebagai wakil cara berpikir Timur, terutama Buddhis.
Diskusi ini juga dapat dianggap sebagai intisari Ajaran Sang Buddha yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya.


Milinda Panha – Kata Pengantar
Milinda Panha – Pendahuluan
Milinda Panha – Prolog
Bab Satu – Jiwa
Bab Dua – Kelahiran Kembali
Bab Tiga – Permulaan Waktu
Bab Empat – Landasan Indera

Dhamma Vibhanga

DHAMMA VIBHAGA
(PENGGOLONGAN DHAMMA)
JILID I

Sumber : Dhamma Vibhaga – Penggolongan Dhamma;
oleh: H.R.H. The Late Patriarch Prince Vajirananavarorasa;
alih bahasa : Bhikkhu Jeto, Editor : Bhikkhu Abhipanno;
Penerbit : Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta; Cetakan Pertama 2002

Daftar Isi

01.  – Duka
02.  – Tika
03.  – Catukka
04.  – Pancaka
05. – Chakka

BĀHIYA JĀTAKA

BĀHIYA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center
“Belajarlah engkau dengan tepat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika Beliau menetap di Kūṭāgārasālā 192 di Weluwana (Veḷuvana) dekat Vesāli, mengenai seorang Licchavi, seorang pangeran alim yang memeluk keyakinan ini. Ia mengundang Sanggha dengan Sang Buddha sebagai guru mereka ke rumahnya, dan di sana ia memberikan persembahan yang berlimpah pada mereka. Dan istrinya merupakan seorang wanita yang sangat gemuk dengan rupa yang membengkak, serta selera berpakaian yang jelek.
Berterima kasih atas persembahannya, Sang Guru kembali ke wihara dan setelah memberikan khotbah kepada para bhikkhu, Beliau masuk ke dalam kamarnya yang wangi.

CULLA-PADUMA-JĀTAKA

No. 19396

CULLA-PADUMA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center
“Ini tidak lain,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal (tidak puas).
Cerita pembuka ini akan dikemukakan di dalam Ummadantī-Jātaka97. Ketika bhikkhu ini ditanya oleh Sang Guru apakah benar bahwasanya dia itu seorang yang tidak puas, dia menjawab bahwa itu benar.
“Siapakah,” kata Sang Guru, “yang menyebabkan Anda tidak puas?” Dia menjawab bahwa dia telah melihat seorang wanita yang berpakaian bagus dan karena ditaklukkan oleh nafsulah menyebabkan dirinya tidak puas.
Kemudian Sang Guru berkata, “Bhikkhu, kaum wanita semuanya tidak berterima kasih dan tidak setia; orang-orang di masa lampau bahkan sangat bodoh sampai memberikan darah dari lutut kanan kepada mereka untuk diminum dan membuat mereka menyerahkan sepanjang hidup mereka, tetapi masih tidak berhasil mendapatkan hati mereka (wanita).”

CULLA-SUTASOMA-JĀTAKA

No. 525

CULLA-SUTASOMA-JĀTAKA

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Dengarkanlah saya, teman-teman,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam pelepasan (keduniawian).
Cerita pembukanya berhubungan dengan Mahānāradakassapa-Jātaka97.
____________________
Dahulu kala, kota yang sekarang menjadi Benares bernama Sudassana dan di sana hiduplah Raja Brahmadatta. Ratu utamanya melahirkan Bodhisatta. Wajahnya cerah sempurna seperti bulan purnama, dan oleh karenanya ia diberi nama Soma.
Ketika ia beranjak remaja, dikarenakan kegemarannya akan jus buah soma98 dan kebiasaannya mengambil sarinya, orang-orang mengenalnya sebagai Sutasoma (penyuling buah soma). Ketika dewasa, ia diajarkan semua cabang ilmu pengetahuan di Takkasilā, dan sekembalinya dari sana, payung putih diberikan kepadanya oleh ayahnya, dan ia pun memerintah kerajaan dengan benar, memiliki daerah kekuasaan yang sangat luas, memiliki enam belas ribu istri, dengan Candadevī sebagai ratu utamanya.

MAHĀBODHI JĀTAKA

No. 528

MAHĀ-BODHI-JĀTAKA117

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Apa arti dari benda-benda ini,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam kebijaksanaan.
Kisahnya berhubungan di dalam Mahāummagga-Jātaka.
Sekarang dalam kisah ini, Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, tetapi juga di masa lampau, Tathāgata adalah yang bijaksana dan mengalahkan para penganut pandangan salah (pembantah),” dan dengan kata-kata ini, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________
Dahulu kala, pada masa pemerintahan Brahmadatta, Bodhisatta terlahir di Benares dalam Kerajaan Kasi, di keluarga seorang brahmana yang kaya raya, yang memiliki kekayaan sebesar delapan ratus juta, dan mereka memberinya nama Bodhi.

Sabtu, 01 Juni 2013

Brahmajala-sutta

DN 1

BRAHMAJALA SUTTA

Sumber: Brahmajala Sutta , Oleh: Tim Penterjemah
Diterbitkan oleh Badan Penerbit Buddhis ARYASURYACANDRA, 1993
PENDAHULUAN
Brahmajala Sutta merupakan sutta yang pertama dari 34 sutta Digha Nikaya. Sutta ini merupakan sebuah sutta yang sangat penting untuk dipelajari dan direnungkan karena isi sutta ini menguraikan tentang berbagai pandangan atau ajaran dari bermacam-macam aliran agama yang ada serta berkembang pada masa kehidupan Sang Buddha. Khususnya bagi umat Buddha yang sedang mempelajari Buddha Dhamma, maka dengan merenungkan dan mengerti isi sutta ini, ia akan mendapatkan banyak informasi baru tentang dasar teori tentang bagaimana pola pikir dan kedudukan ajaran agama Buddha di tengah-tengah aneka ragamnya teori pandangan hidup dan agama di dunia ini. Karena uraian yang ada dalam sutta ini, walaupun telah diungkapkan oleh Sang Buddha pada lebih dari 2500 tahun yang lalu, namun isinya sampai sekarang masih up to date.