Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Oktober 2019

Inti Ajaran Buddha

Secara umum, manusia menginginkan kehidupannya penuh kebahagiaan, berkumpul dengan orang-orang yang disayangi, terbebas dari hutang, dan setelah meninggal mendapat tempat yang baik dengan terlahir di alam bahagia (surga). Buddha mengatakan keinginan-keinginan tesebut adalah wajar, diinginkan oleh kebanyakan manusia dunawi.

Namun realita yang terjadi, tidak semua keinginan-keinginan itu sesuai dengan harapan. Dengan

Selasa, 12 Agustus 2014

Permohonan Brahma Sahampati

B. Permohonan Brahma Sahampati

Peristiwa apa yang terjadi seperti pada gambar itu? Di manakah peristiwa itu terjadi? Oleh siapa dan kepada siapa peristiwa itu terjadi? Baca dan cermatilah uraian materi bab ini!
Sumber: http://biografibuddha.wordpress.com
Gambar 1.2 Brahma Sahampati turun dari alam Brahma memohon agar Buddha mengajarkan Dharma


Brahma Sahampati dengan tubuhnya yang bercahaya terang, tiba-tiba turun dari alam brahma dan berdiri di hadapan Buddha. Setelah memberi hormat, Brahma Sahampati pun berkata:

Khotbah Pertama Buddha (materi Bab 1 kelas 8 semester 1)

A. Buddha Merenungkan Dharma



Segera setelah mencapai Penerangan Sempurna, Buddha duduk bermeditasi di bawah pohon Rajayatana untuk merenungkan Dharma yang telah ditemukan. Perlu kamu ketahui bahwa setelah melewatkan 49 hari di bawah pohon Rajayatana, Petapa Gotama mencapai Penerangan Sempurna, yaitu pada hari Rabu malam purnama bulan Waisak. Pada hari ke-50, tepatnya hari Kamis, tanggal 6 bulan Asadha, Buddha bangkit dari dudukNya di bawah pohon Rajayatana. Beliau kembali dan berdiam di bawah pohon gembala (Ajapala) dengan duduk bersila. Dalam kesunyian dan ketenangan di bawah pohon Ajapala itulah, Buddha  merenungkan hal berikut.
 “Empat Kebenaran Mulia, terlihat dengan jelas melalui kebijaksanaan yang muncul
dengan sendirinya (syambhu Nana). Sungguh sulit untuk dilihat (bagaikan sebutir biji mostar
yang ditutupi Gunung Meru yang besar); sungguh sulit dipahami (sesulit memecahkan
sehelai bulu binatang menjadi seratus bagian dengan sehelai bulu lain); sungguh damai; dan
sungguh mulia.”

Selanjutnya,

Rabu, 17 Juli 2013

Peristiwa Pelepasan Agung (Riwayat Pangeran Siddharta Meninggalkan Istana)


A.      Delapan anugerah yang diminta Pangeran Siddharta kepada Raja Suddhodana:
1.      Anugerah supaya tidak menjadi tua
2.      Anugerah supaya tidak sakit
3.      Anugerah supaya tidak mati
4.      Anugerah supaya ayah tetap bersamaku
5.      Anugerah supaya semua wanita yang ada di istana bersama kerabat lain tetap hidup
6.      Anugerah supaya kerajaan ini tidak berubah dan tetap seperti sekarang
7.      Anugerah supaya mereka yang pernah hadir pada pesta kelahiranku dapat memadamkan semua nafsu     keinginannya
8.      Anugerah supaya aku dapat mengakhiri kelahiran, usia tua dan mati.

B.       Sikap Raja Suddhodana setelah Pangeran Siddharta meminta delapan anugerah.
Raja Suddhodana menjadi kaget dan kecewa. Raja menjawab bahwa hal-hal tersebut berada diluar kemampuannya dan masih mencoba membujuknya dengan mengatakan “Anakku, usiaku sekarang sudah lanjut. Tunggu saja dan tangguhkan kepergianmu sampai aku sudah mangkat.”

Senin, 10 Juni 2013

Asal-usul Jubah Bhikkhu

Pada zaman Sang Buddha, para bhikkhu memiliki satu stel jubah pamsukula civara. Yang dimaksud pamsukula civara adalah kain bekas pembungkus mayat yang telah dibuang orang di dalam hutan atau di kuburan.

Pada zaman dahulu di India, orang yang meninggal, baik yang miskin maupun yang kaya langsung dibungkus kain dan dibuang ke hutan, lalu para bhikkhu mengambil kainnya dan dicuci kemudian dicelup dengan getah pohon yang berwarna kuning (misalnya pohon nangka), lalu dijahit dibuat jubah.

Pada zaman itu kain sulit dicari dan bila ditemukan mutunya kurang baik. Kain hanya bisa dipakai paling lama satu tahun karena bila kain dipakai lebih dari satu tahun kain tersebut telah mengalami kerusakan.