Minggu, 10 Mei 2020

Karma, Kematian, dan Kelahiran Kembali

Di mana Karma berada? 
_______________________

Dalam Milinda Panhà sang raja terpelajar, Milanda,  bertanya  kepada seorang Arahat terpelajar,  Yang Mulia Nàgasena, 

“Yang Mulia, anda berbicara tentang karma baik dan karma buruk. Di mana karma-karma ini berada?” 

“Baginda raja, karma-karma ini berada di

Senin, 16 Desember 2019

Peta Kehidupan

Peta adalah petunjuk arah,
dibuat untuk memandu agar orang mengetahui jalur sehingga  tidak nyasar, dan juga mengetahui kondisi dan situasi di daerah tersebut agar kita dapat sampai tujuan dengan selamat. 

Tetapi jangan lupa,  situasi riilnya tidak selalu sama dengan di peta.
Bukankah jalan berlubang tidak ada dipeta, jembatan rusak tidak ada di peta, tanjakan dan turunan tidak ada di peta, orang menyeberang jalan tidak ada di peta, banyak anak kecil bermain tidak ada dipeta, binatang seliweran tidak ada di peta, jalan licin juga tidak ada di peta, apalagi batang pohon yang roboh. 

Artinya kita harus tetap berhati-hati dalam perjalanan walaupun sudah membawa peta.  

Tetap fokus pada tujuan, fokus pada jalan yang dilalui, fokus pada saat ini, bukan hanya fokus dan terpaku pada peta. Dengan demikian kita tidak kaku dalam menggunakan peta.
Lihat peta sebentar, lalu fokus pada jalan. Lihat peta lagi sebentar,  dan kembali fokus pada jalan. Bisa bayangkan apa yang terjadi jika dalam perjalanan kita lebih fokus pada peta? Bukan pada tujuan dan jalan?

Senin, 04 November 2019

Uraian Perenungan Tiratana (Buddha, Dhamma, Sangha)

Perenungan Buddhanusati

Iti Pi So Bhagava
Araham Sammasambuddho Vijjacaranasampanno
Sugato Lokavidu Anuttaro Purisadammasarathi
sattha Devamanussanam
Buddho Bhagava'Ti

ITIPI, SO BHAGAVA..Yang Terberkahi mempunyai kualitas-kualitas kebajikan, demikian:

1) Araham : manusia yang maha mulia
(a) Murni sempurna dari kotoran, sehingga tidak berbekas, bahkan yang samar-samar sekalipun, yang dapat menunjukkan keberadaannya,
(b) Tidak memiliki kemampuan untuk

Rabu, 16 Oktober 2019

Perlindungan dan Keselamatan dalam Ajaran Buddha

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri, siapa lagi yang bisa melindungi? Dengan diri sendiri sesungguhnya seseorang memperoleh
 perlindungan yang sangat sukar didapat
(Dhammapada 160)

Secara naluri, semua makhluk hidup memiliki berbagai cara untuk melindungi diri. Jika kita perhatikan berbagai jenis binatang, mereka memiliki cara masing-masing untuk melindungi diri dari ancaman predator, cuaca, atau yang lainnya. Cicak melindungi diri dari predator dengan cara menanggalkan ekornya, Bunglon melindungi diri dengan berkamuflase, Kalajengking dan lebah memiliki penyengat, dan banyak lagi contoh lain. Semua itu dalam usaha untuk melindungi diri agar mendapatkan keselamatan. Tetapi apakah cara-cara itu bisa melindunginya selamanya?

Ketakutan dan ketidaktahuan akan keadaan setelah kematian, menggiring manusia pada pencarian perlindungan agar memperoleh

Selasa, 15 Oktober 2019

Inti Ajaran Buddha

Secara umum, manusia menginginkan kehidupannya penuh kebahagiaan, berkumpul dengan orang-orang yang disayangi, terbebas dari hutang, dan setelah meninggal mendapat tempat yang baik dengan terlahir di alam bahagia (surga). Buddha mengatakan keinginan-keinginan tesebut adalah wajar, diinginkan oleh kebanyakan manusia dunawi.

Namun realita yang terjadi, tidak semua keinginan-keinginan itu sesuai dengan harapan. Dengan

Minggu, 06 Oktober 2019

Stop Bullying pada Diri Sendiri dan Orang Lain

“Bullying tidak baik untuk diri sendiri maupun orang lain”

Marilah kita merangkapkan kedua tangan di depan dada, bersikap anjali, untuk mengagungkan guru agung kita sang Buddha.
Namo tassa bhagavago arahato sammasambuddhassa 3x
Hendaklah ia menjaga ucapan dan mengendalikan pikiran dengan baik, serta tidak melakukan perbuatan jahat melalui jasmani. Hendaklah ia memurnikan tiga saluran perbuatan ini, memenangkan jalan yang telah dibabarkan para suci.
(Dhammapada: 281)

Namo Buddhaya,
Bapak/ibu dan saudara-saudara yang berbahagia, pada kesempatan ini saya akan menyampaikan topik tentang Bullying.
Saya pikir kata ini sudah familier di telinga kita semua. 
Di sekitar kita mungkin banyak kita jumpai tindakan-tindakan bullying, seperti mencela, mencemooh dan mengolok-olok menggunakan nama orangtua, mengancam akan melakukan sesuatu, seperti melukai atau menyakiti secara fisik, membicarakan, menggosipkan dan menjelek-jelekkan orang lain di belakang.
Menurut Wikipedia, bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk

Kamis, 03 Oktober 2019

Ketuhanan Buddhisme

Salah satu topik yang paling menarik dibahas dalam ajaran Buddha adalah topik tentang ketuhanan. Karena konsep ketuhanan dari sudut pandang Buddhisme ternyata jauh berbeda dengan konsep-konsep ketuhanan agama lain. Jika dalam agama lain, mungkin terbiasa dengan konsep bahwa Tuhan adalah pencipta alam beserta isinya, yang maha tahu, maha pengasih, maha pemurah, pemaaf, dan penentu segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia ini. Tuhan adalah sosok adikuasa  dimana manusia sebagai salah satu makhluk ciptaannya wajib tunduk dan memuja-Nya, meminta segala sesuatu dengan cara berdoa pada-Nya. Namun, jika kita lihat dalam ajaran Buddha, konsep di atas tidak pernah kita temukan. Mengapa?

Rabu, 02 Oktober 2019

Cara Hidup Bahagia

Hidup sebagai manusia tentu tidak terlepas dari yang namanya penderitaan. Selama hidup, kita pasti pernah mengalami penderitaan. misalkan kecewa ketika tidak mendapatkan yang diinginkan, sedih ketika kehilangan sesuatu atau ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi, dan banyak lagi bentuk penderitaan yang lain. 

Di sisi lain, kita menginginkan kehidupan yang bahagia, sehat, sukses, berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai, dan sebagainya. Namun, pada kenyataannya, tidak semua yang kita harapkan dapat terjadi sesuai keinginan kita. Itulah yang membuat kita tidak bahagia, yang membuat kita menderita, sehingga kita

Kamis, 26 September 2019

Lima Macam Persembahan dalam Pattakamma-sutta

Dalam Pattakamma Sutta, Buddha menjelaskan kepada Anathapindika tentang lima macam persembahan, yaitu:


1. Persembahan kepada orangtua dan sanak saudara yang masih hidup
    Persembahan kepada orangtua dan sanak saudara dapat berupa merawat orangtua, memenuhi kebutuhannya, memberikan bantuan kepada sanak saudara yang sedang membutuhkan atau sekedar memberikan buah tangan atau oleh-oleh.

2. Persembahan kepada tamu
    Persembahan kepada tamu adalah layanan yang kita berikan kepada tamu yang datang, seperti minuman, makanan, ataupun tempat menginap
3. Persembahan kepada sanak saudara yang telah meninggal dunia
    Persembahan kepada sanak sudara yang telah meninggal dapat dilakukan dengan melkukan pelimpahan jasa. Caranya kita melakukan kebajikan dan setelahnya kita merenungkan semoga jasa kebajikan ini diketahui oleh sanaknkeluarga yang telah meninggal dan semoga mereka turut berbahagia atas kebajikan ini.  
4. Persembahan kepada raja (pemerintah)
 Persembahan kepada raja atau pemerintah dapat kita lakukan dengan cara membayar pajak secara tertib dan tepat waktu.
5. Persembahan kepada dewa.
    Persembahan kepada dewa juga dapat dilakukan dalam bentuk pelimpahan jasa seperti nomor 3.

Mempersembahkan kepada dewa menunjukkan bahwa jasa yang dilimpahkan oleh Sangha bukan hanya dapat diterima oleh mereka yang terlahir kembali di alam peta tetapi juga oleh sanak keluarga kita yang terlahir di alam dewa.
Dalam Mahaparinibbana Sutta, Buddha menyarankan rakyat untuk berdana kepada para bhikkhu berbudi luhur dan mendedikasikan persembahannya kepada para dewa. Para dewa akan melindungi dan membantu mereka sebagai balasannya.

Kamis, 05 September 2019

Apa yang Terjadi Setelah Kematian?

Banyak yang mempertanyakan tentang Apa Yang Terjadi Setelah Kematian?

Ada tiga macam jawaban untuk pertanyaan itu, yaitu:

1. Mereka yang percaya pada adanya  “Tuhan penguasa semesta”  akan menjawab, bahwa setelah mati seseorang akan ditempatkan di Surga abadi atau Neraka abadi, tergantung pada perbuatan atau agama orang itu.

2. Yang lain mengatakan bahwa bila hidup seseorang berakhir, keberadaannya juga berakhir. Ini adalah kepercayaan “Kemusnahan pada kematian“, yang merupakan pandangan materialistik.

3. Sang Buddha berkata bahwa setelah kematian, kita akan terlahir pada

Rabu, 10 Oktober 2018

Olimpiade Pelajar Buddhis Kabupaten Mempawah


I.                    Pengertian
                 Olimpiade Pelajar Buddhis Kabupaten Mempawah adalah suatu ajang kompetisi para pelajar Buddhis Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat yang dilaksanakan setiap satu kali dalam satu tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah bakat, minat, serta pengetahuan pelajar Buddhis untuk menciptakan

Rabu, 19 September 2018

Pancabala (Lima Kekuatan)

Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa 3x

Jadilah pulau bagi dirimu sendiri, jadilah pelindung bagi dirimu sendiri. 

Sebagai manusia yang merupakan salah satu dari makhluk hidup,  pada umumnya  kita tentunya punya tujuan hidup. Secara umum tujuan hidup kita adalah kebahagiaan, sama seperti makhluk hidup lain pada umumnya juga mengharapkan kebahagiaan.  Namun,  tentu kita harus memiliki cara-cara yang sistematis agar  tujuan hidup kita itu dapat tercapai.
Bagaimana agar tujuan hidup kita tercapai?  Apa yang harus kita miliki dan kembangkan? 
Dalam Bala-Sutta sang Buddha mengatakan ada lima kekuatan (Pancabala),  yaitu:
1. Saddha-bala (kekuatan keyakinan) 
    Dengan memiliki keyakinan (terhadap sesuatu yang benar)  maka akan menimbulkan kekuatan. Sebagai contoh,  jika kita yakin bahwa kita dapat melakukan sesuatu,  maka pikiran kita akan mengarah pada metode-metode atau cara untuk menggapai tujuan itu. Jadi, dengan adanya keyakinan akan muncul sikap optimis dalam mencapai tujuan. 
2. Viriya-bala (kekuatan semangat) 
     Dengan adanya keyakinan tadi, maka akan dibarengi dengan melakukan usaha atau daya upaya.  Berusaha dengan ulet, rajin,  dan tekun untuk mencapai tujuan.  Dengan usaha ini maka tujuan akan tercapai. Contoh: untuk mereka yang akan menghadapi ujian. Ketika ia melkukan usaha dengan cara belajar dari berbagai sumber, maka ia akan dapat menyelesaikan ujian dengan baik. Coba saja, kalau tidak ada usaha untuk belajar maka ia akan kesulitan dalam ujian. 
3. Sati-bala (kekuatan perhatian/kesadaran)
     Dengan memiliki perhatian/kesadaran yang baik, maka kita akan dapat mencapai tujuan dengan lebih mudah.  Misalnya, kita singin memasukkan benang dalam lubang jarum. Jika kita tidak memiliki perhatian yang cukup,  tentu hal itu akan sulit untuk dilakukan. Atau kita sedang menyetir, jika kita tidk penuh perhatian tentu akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. 
4. Samadhi-bala (kekuatan konsentrasi) 
     Yang tidak kalah penting adalah konsentrasi. Ini sangat perlu kita miliki agar segala sesuatunya dapat berjalan sesuai harapan. Sebagai contoh, seseorang yang membaca buku dengan penuh konsentrasi dan fokus, ia akan dapat mengingat lebih banyak apa yang telah ia baca. Tapi ketika seseorang membaca tanpa konsentrasi, mungkin ketika membaca halaman berikutnya ia telah lupa apa yang ia baca di halaman pertama. Tentu kita pernah mengalami hal ini bukan? Maka konsentrasi mutlak perlu kita latih dan kembangkan.
5. Pannya-bala (kekuatan kebijaksanaan)
    Dengan memiliki keempat kekuatan yang sebelumnya, maka kebijaksanaan akan dapat berkembang. Kebijaksanaan perlu kita miliki agar kita semakin dekat dengan tujuan yang ingin kita capai. Contoh: katakanlah ketika kita ingin ke Vihara.  ketika akan ke vihara tiba-tiba ada teman yang mengajak bermain. Jika kita tidak memiliki kebijaksanaan, mungkin saja kita akan lebih memilih ikut teman bermain. Namun, jika kita bisa bersikap bijaksana dengan berpikir bahwa ke vihara lebih penting dn lebih baik dari sekedar bermain,  maka tujuan kita untuk dapat ke vihara akan terlaksana.  Maka dari itu,  kebijaksanaan sangatlah penting kita miliki dan kembangkan. 
Jadi, untuk mencapai tujuan kita,  kita perlu mengembangkan lima hal ini,  karena dengan demikian akan membawa kita mengarah pada tujuan kita.  Untuk itu,  marilah kita bersama-sama berlatih untuk mengembangan saddha,  viriya, sati,  samadhi,  dan pannya agar kita dapat mencaai tujuan hidup kita yang juga diyaitu kebahagiaan. 
Sabbe satta bhavantu sukhitatta (semoga semua makhluk berbahagia)
Sadhu...  Sadhu...  Sadhu....

Minggu, 04 Februari 2018

HARI – HARI RAYA AGAMA BUDDHA 2018


HARI – HARI RAYA AGAMA BUDDHA 2018



Hari Raya Buddhis                                                 Hari, Tanggal


01. Magha Puja 2561 / 2018                                 Kamis, 01 Maret 2018
02. Waisak Nasional 2562 / 2018                         Selasa, 29 Mei 2018
                                                                              Pukul 21.19.13 WIB
                                                                              Thema :
                                                                              Berucap-Bertindak-Berpikir Baik Memperkokoh                                                                                      Keutuhan Bangsa

03. Asalha Puja 2562 / 2018                                 Jumat, 27 Juli 2018

04. Masuk Vassa 2562 / 2018                               Sabtu, 28 Juli 2018

05. Pavarana Keluar Vassa 2562 / 2018               Rabu, 24 Oktober 2018
     
06. Masa Vassa 2562 / 2018                                 28 Juli s.d. 24 Oktober 2018

07. Awal Masa Kathina 2562 / 2018                    Kamis, 25 Oktober 2018

08. Akhir Masa Kathina 2562 / 2018                   Kamis, 22 November 2018

Jadual Pabbajja Samanera tahun 2018



Jadual Pabbajja Samanera
tahun 2018

Penyelenggara : Sangha Theravada Indonesia
No.Jenis KegiatanTempat PelaksanaanWaktu Pelaksanaan
01.Pabbajja Samanera Umum LXXVIII Program UpayogadhuraVihara Tanah Putih, Semarang16 Mei – 30 Mei 2018
02.Pabbajja Samanera Remaja-Pelajar XL Program Dhammacara dan Latihan AtthasilaniVihara Jaya Manggala, Jambi21 Juni – 1 Juli 2018
03.Pabbajja Samanera Remaja-Pelajar XLI Program Dhammacara dan Latihan AtthasilaniVihara Ratanavana Arama, Lasem, Rembang24 Juni – 4 Juli 2018
04.Pabbajja Samanera Remaja-Pelajar XLII Program DhammacaraVihara Karuna Dipa, Palu, Sulawesi Tengah24 Juni – 4 Juli 2018
05.Pabbajja Samanera Remaja-Pelajar XLIII Program DhammacaraMandala Wangi Arama, Serang1 Juli – 10 Juli 2018
06.Pabbajja Samanera Umum LXXIX Program Ganthadhura dan Latihan AtthasilaniVihara Mendut, Kota Mungkid, Magelang8 Juli – 23 Juli 2018
07.Pabbajja Samanera Umum Tiga BulanPusdiklat Buddhis Sikkhadama Santibhumi, BSD City, Tangerang Selatan 25 Agustus – 25 November 2018
08.Pabbajja Samanera Umum LXXX Program GanthadhuraWisma Vipassana Kusalacitta, Bekasi23 Desember 2018- 6 Januari 2019
09.Pabbajja Upasampada II Tahun 2018 Vihara Vipassana Giriratana, Gunung Sindur, Kab. Bogor26 Mei -10 Juni 2018

__________________________________

Sumber: http://samaggi-phala.or.id/

Jadwal Kegiatan MGMP PAB Kab. Mempawah Tahun 2018

Jadwal Kegiatan MGMP Pendidikan Agama Buddha Kabupaten Mempawah Tahun 2018

Rabu, 25 Januari 2017

MUDRA (Posisi tangan)












1Menghadap ke Timur
Aksobhya dengan mudra Bhumisparsa (menunjuk bumi sebagai saksi).
2Menghadap ke Selatan
Ratnasambhava dengan mudra Vara atau Varada (memberi anugerah).
3Menghadap ke Barat
Amitabha dengan mudra Dhyana (meditasi).
4Menghadap ke Utara
Amogasiddhi dengan mudra Abhaya (jangan takut).
5Menghadap ke empat penjuru
Vairocana dengan mudra Vitarka (meyakinkan).
6Di Candi Mendut terdapat sebuah patung besar Buddha Gautama dengan Dharmacakra-mudra (jari manis tangan kanan ditaruh di jari manis tangan kiri, maksudnya : memutar Roda Dhamma).
Patung-patung dari Vajrasatva-Vajrasatva dengan Dharmacakra-mudra (yang menghadap ke empat penjuru) pun dapat diketemukan di candi Borobudur.
                                                   
Sumber: 
http://samaggi-phala.or.id/

DASA PARAMITTA


Sepuluh Kesempurnaan dalam Kebajikan yang harus dimiliki oleh seorang Buddha, yaitu :
1Däna=Dermawan, gemar menolong orang lain.
2Sila=Bersih dalam ucapan dan perbuatan.
3Nekkhamma=Melepaskan ikatan keduniawian.
4Pañña=Kebijaksanaan
5Viriya=Tekun, bersemangat, ulet.
6Khanti=Sabar, dapat memaafkan kesalahan orang lain.
7Sacca=Mencintai kebenaran.
8Adithäna=Teguh dalam tekad, tak tergoyahkan.
9Metta=Cinta kasih luhur, mencintai semua mahluk tanpa perbedaan.
10Upekkhä=Keseimbangan bathin, tak terpengaruh lagi oleh perasaan sukha dan dukkha.

                                                                               

Sumber: http://samaggi-phala.or.id/

PUJA DALAM AGAMA BUDDHA


1. Pengertian puja/upacara/menghormat
1) Suatu cetusan hati nurani manusia terhadap suatu keadaan.
2)Sebagai salah satu bentuk kebudayaan dapat kita selenggarakan sesuai dengan tradisi dan perkembangan jaman asalkan selalu didasarkan pada pandangan benar.
3) Buddha Dhamma sebagai ajaran universal, tidak mengalami perubahan (penguranga nmaupun tambahan).Oleh sebab itu, manifestasi pemujaan kita pada Tiratana yang dijelmakan dalam bentuk upacara dan cara kebaktian hendaknya tetap didasari dengan pandangan benar sehingga tidak menyimpang dari Buddha Dhamma itu sendiri.

2. Sejarah terjadinya puja dalam agama Buddha
Puja dalam zaman pra-Buddha, puja lebih bermakna sebagai persembahan kepada para dewa. Hal ini dilakukan dengan cara mengorbankan hewan, bahkan mengorbankan manusia kepada para dewa. Sejarah puja kepada para dewa ini diawali dengan munculnya ajaran brahmanisme. Ajaran ini menunjukkan bahwa ada
makhluk dewa yang berkuasa atau mengatur segala sesuatu yang akan diterima oleh manusia. Dengan alasan itu, para brahmin menciptakan sarana puja kepada dewa-dewa dengan jalan upacara-upacara korban. Tujuannya adalah dengan korban yang diberikan kepada para dewa, mereka akan menjadi senang dan tidak menjatuhkan malapetaka bagi manusia.

1) Sang Buddha tidak pernah mengajar cara puja. Sang Buddha hanya mengajarkan Dhamma agar semua makhluk terbebas dari penderitaan.
2) Upacara yang ada pada saat itu hanyalah upacara penahbisan bhikkhu dan samanera.
3) Puja/upacara yang sekarang
ini kita lihat merupakan perkembangan dari kebiasaan yang ada, yang terjadi sewaktu Sang Buddha masih hidup, yaitu yang disebut `Vattha’, yang artinya kewajiban yang harus dipenuhi oleh para bhikkhu seperti merawat Sang Buddha

KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA

KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA
Oleh Bhikkhu Uttamo, Mahathera
Umat Buddha kadang dianggap masyarakat luas sebagai orang yang tidak bertuhan.Agama Buddha sering pula dikatakan sebagai agama yang tidak bertuhan. Bahkan, pada suatu pertemuan dengan para pemuka agama, saya pernah menerima pernyataan dari pemuka agama lain bahwa Agama Buddha tidak bertuhan. Menanggapi pernyataan yang bersifat tuduhan ini, saya jawab dengan pertanyaan lain: ”Manakah agama di Indonesia yang bertuhan?” Tentu saja para pemuka agama itu langsung tersentak kaget dan merah padam mukanya.Mereka seolah tidak percaya dengan pertanyaan saya tersebut.Namun, saya segera melanjutkan dengan keterangan bahwa istilah ‘tuhan’ sesungguhnya berasal dari Bahasa Kawi.Oleh karena itu, pengertian kata ‘tuhan’ terdapat dalam kamus Bahasa Kawi. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa ‘tuhan’ berarti penguasa atau tuan. Dan, karena di Indonesia tidak ada agama yang mempergunakan Bahasa Kawi sebagai bahasa kitab sucinya, lalu agama manakah di Indonesia yang bertuhan dan mencantumkan istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci aslinya? Menyadari kebenaran tentang bahasa asal kitab suci masing-masing, barulah mereka menerima bahwa memang tidak ada istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci mereka. Jika demikian dalam Tipitaka, kitab suci Agama Buddha, tentu juga tidak akan pernah ditemukan istilah ‘tuhan’ karena Tipitaka menggunakan Bahasa Pali yaitu bahasa yang dipergunakan di India pada jaman dahulu. Namun, tidak adanya istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci Tipitaka tentunya tidak boleh dengan mudah dan sembarangan kemudian orang menyebutkan bahwa ‘Agama Buddha tidak bertuhan

Minggu, 22 Januari 2017

Festival Pelajar Buddhis

Pengertian
Festival Pelajar Buddhis Kabupaten Mempawah adalah suatu ajang kompetisi para pelajar Buddhis Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat yang dilaksanakan setiap satu kali dalam satu tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah bakat, minat, serta pengetahuan pelajar Buddhis untuk menciptakan generasi yang berpengetahuan luas dan sportif. 
Festival Pelajar Buddhis Kabupaten Mempawah diprakarsai oleh kerjasama Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Agama Buddha Kabupaten Mempawah, dibentuk pada akhir tahun 2016 dan dilaksanakan pertama kali di tahun 2017.

Maksud dan Tujuan
1.      Maksud dan tujuan diselenggarakan kegiatan ini adalah:
2.      Meningkatkan keyakinan melalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Buddha Dhamma
3.      Meningkatkan kualitas mental dan spiritual peserta didik
4.      Menumbuhkembangkan bakat, minat, dan keterampilan peserta didik
5.  Menumbuhkembangkan bakat, minat, dan keterampilan peserta didik; serta meningkatkan solidaritas dan kepedulian sosial.
Arti Lambang:
1. Lingkaran Bulat berwarna